to err is human.

Once a douchebag, always a douchebag

Posted by: putriiva on: 12 December 2011

Seringkali gue gabung ngobrol-ngobrol sama cowok-cowok, mostly untuk urusan kerjaan. Tapi yah, namanya juga cowok, biarpun lagi urusan kerjaan, pasti ada (sebagian besar atau kecil) ngomongin soal cewek. Bisa artis, temen, kenalan, atau cewek yang kebetulan lewat di depan mata, baik kenal maupun ga kenal.

Dan seperti umumnya cowok, yang diomongin ya pasti berhubungan dengan fisik. Apalagi kalo ceweknya cantik/seksi. Dan sebagai (biasanya) cewek satu-satunya, gue harus siap sedia dengerin komen para cowok ini tentang si cewek yang jadi bahan pembicaraan.

“Bro, ukuran berapa tuh brooo…”

dan komentar-komentar lain semacamnya.

Sometimes it can get very awkward since I’m the only girl there. Okelah kalo cuma komentar. Gue juga suka kok ngomentarin cowok yang ganteng.

Tapi entah kenapa, selalu aja ada yang ngerasa: “kayaknya bisa nih cewek.” Padahal si cewek ngga ngapa-ngapain, selain cantik (ya mau diapain, emang mukanya cantik) dan seksi (ya ini berhubungan dengan baju dan pembawaan sih, tapi terus kenapa?)

Gue ga abis pikir dan merasa sangat terganggu dengan anggapan kalau perempuan selalu jadi pihak yang mengundang sikap dan perbuatan cowok yang tolol dan kurang ajar.

Misal: si cewek cuma sedikit ramah atau senyum, maksudnya sih cuma being nice aja, ga ada maksud lebih. Eh tetep dapat tanggapan yang salah. Diajak jalan lah, digoda-godain lah. Atau si cewek pake baju yang pendek sedikit, tau-tau dikomentarin kalo si cewek bisa dipake. Maksut looo??

Ya ngga usah ge er juga kali jadi cowok. Kalo cuma disenyumin doang mah artinya si cewek berusaha ramah. Lah kalo dicemberutin dibilangnya si cewek sombong. Maunya apa coba. Giliran ditanggepin, dianggepnya si cewek gampangan.

My goodness.

Terus salah semua cewek kalau semua cowok kelakuannya terbelakang, brengsek dan kurang ajar? So, guys can be a total douche bag, tapi tetep cewek yang mesti behave?

Puhlease.

can i handle the seasons of my life?*

Posted by: putriiva on: 23 September 2011

It’s funny how life kicks you in the ass twice at the same time. While all you can do is keep on repeating that shitty heartbroken song over and over.

So that you’d be reminded that everything is not over. Yet.

It’s about the past: long-lost friends, nagging ex-es, memories you tried so hard to get rid of but you just simply cannot

It’s about present: constant reminders that you are simply inept; tasteless days, insipid deeds, so you’re craving more and more flavoring. Salt, that is. Damaging your senses.

It’s about future: greyish. Unlikely to be potent.

Oh, yeah. Life is funny like that. That kick is yours to squeeze, my dear.

*courtesy of Fleetwood Mac.

asin tanpa gula buatan

Posted by: putriiva on: 4 June 2011

Berlebihankah jika setiap hari aku selalu makan asam-asam dan asin-asin? Aku terdengar seperti wanita hamil tiga bulan ngidam rujak mangga muda. Hanya saja entah kenapa ada satu lelaki asam asin ini. Setiap hari aku bersamanya, setiap hari juga rasanya seperti ngidam hamil muda.

Dua suap asam satu suap asin. Oh ya barangkali kadang-kadang manis hanya saja aku tetap anggap itu asin. Karena aku suka asin.

Aku suka cemilan asin daripada manis. Terlalu banyak manis meninggalkan pahit di lidah, terlalu banyak asin tinggal minum air banyak-banyak. Oh ya jelas, aku bakal terkena risiko darah tinggi, tapi apa bedanya dengan gula tinggi jika terlalu banyak manisan, belum lagi gula buatan.

Bukankah kita selalu dengar gula buatan dan tidak pernah dengar garam buatan? Aku suka yang asli. Aku suka kamu, hai laki-laki asam asin.

Kapan kita kemana?

 

life 2.0

Posted by: putriiva on: 29 March 2011

orang-orang dibangunkan perangkat elektronik
langsung mengecek notifikasi: dua puluh surat elektronik di kotak masuk, tujuh mensyen di situs jejaring kicauan, satu pesan pribadi di parasbuku

sarapan cepat saji dimasak di perkakas listrik
api elektrik gelombang mikro
tidak penting apa isi dan rasanya, yang penting apa yang kita makan disebar ke seantero

mesin mobil otomatis
kartu tol otomatis
mesin absen digital praktis

pemerintah dijalankan secara digital
negara digital, menteri digital, peraturan digital

analog kini menjadi olok-olok

tidak ada yang lebih menakutkan daripada matinya perangkat elektronik di hadapan
baterai cadangan jadi tumpuan

malam tiba, mereka pun ditidurkan perangkat elektronik
kehidupan elektrik?

perempuan rasa air laut

Posted by: putriiva on: 28 March 2011

Perempuan rasa air laut.
Duduk di tepian laut.
Ia menjilat lengannya sekilas. Asin. Rasa air laut.
Ia mencium bajunya sekejap. Amis. Bau air laut.
Ia menghirup udara dalam-dalam. Paru-parunya tersedak angin laut.

Di kejauhan ia melihat sebongkah karang kokoh di tengah laut.
Ada sesosok makhluk di atas karang tersebut.
Tangannya melambai, memanggil si perempuan laut.
Si perempuan laut masuk ke air, tak ragu menghadang ombak laut.

Matanya membuka di dalam air biru berkabut.
Di depannya cahaya terang menghasut.
Menyuruhnya untuk terus berenang meskipun gelombang tak surut.
Ia beringsut.
Maju perlahan demi makhluk di atas karang laut.

Tangannya mulai lelah tapi karang itu rasa tak jua menyambut.
Sedikit demi sedikit badannya susut.
Pecah di antara arus air laut.

Si perempuan laut,
Sekeping demi sekeping tubuhnya melarut.
Dalam terjangan air laut.
Si perempuan laut menjelma menjadi buih-buih air laut.
Hanyut.
Mati karena cinta tak kesampaian pada makhluk di atas karang laut.

Cinta maut.

my rambling tweets

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.